Selasa, 12 Oktober 2010

MAKALAH FILSAFAT


BAB I
PENDAHULUAN
Dalam pandangan Islam, pendidikan sangat mempengaruhi dalam memberi corak hitam putihnya perjalanan hidup seseorang. Oleh karena itu ajaran Islam menetapkan bahwa pendidikan merupakan kewajiban bagi pria dan wanita dan berlangsung seumur hidup, semenjak dari buaian hingga ajal datang.
Kedudukan tersebut secara tidak langsung telah menempatkan pendidikan sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan hidup dan kehidupan manusia.Dalam hal ini Dewey berpendapat bahwa, pendidikan sebagai salah satu kebutuhan hidup (a necessity of life), salah satu fungsi sosial (a sosial function), sebagai bimbingan (a divertion), sebagai sarana pertumbuhan (a means of grouth), yang mempersiapkan dan membukakan serta membentuk disiplin hidup.
Dengan menganalisa berbagai filsafat, seperti filsafat Yunani, Barat, dan lainnya maka muncullah berbagai macam disiplin ilmu dengan menggunakan analisa filsafat. Sehingga berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan yang berkembang sekarang ini menemukan kembali relevansinya dan berkemampuan untuk menjawab tantangan serta memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh umat manusia.
Begitu juga halnya dalam lapangan pendidikan. Demi menjaga relevansinya dalam kehidupan masyarakat dan lebih mampu lagi meningkatkan fungsinya bagi kesejahteraan hidup masyarakat, maka lahirlah filsafat pendidikan yang merupakan cabang filsafat sebagai pembantu dalam memecahkan masalah-masalah, khususnya dalam lapangan pendidikan.<span class="fullpost">




BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Munculnya filsafat Pendidikan dan Aliran-Aliran    Pendidikan
filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan (the mother of science) yang mampu menjawab segala pertanyaan tentang berbagai masalah yang berhubungan dengan alam semesta, manusia dengan segala problematikanya dalam kehidupan. Kemudian karena semakin berkembangya pemikiran manusia, banyak problema yang tidak bisa dijawab oleh filsafat, maka lahirlah ilmu pengetahuan dalam bentuk disiplin ilmu dengan keterkhususannya masing-masing sehingga sanggup menjawab atas problematika perkembangan metodologi yang semakin pesat.
Setiap disiplin ilmu memilliki objek dan sasaran yang berbeda-beda, serta mengurus dan mengembangkan bidang garapan sendiri-sendiri dengan tidak memperhatikan hubungan dengan bidang yang lainnya. Akibatnya terjadi pemisahan antara berbagai macam bidang ilmu. Ilmu pengetahuan semakin kehilangan relevansinya dalam kehidupan masyarakat dan umat manusia dengan problematikanya.
Dengan menganalisa berbagai filsafat, ilmu pengetahuan dapat menemukan kembali relevansinya dalam kehidupan masyarakat dan akan lebih mampu lagi meningkatkan fungsinya bagi kesejahteraan hidup masyarakat.
filsafat adalah usaha orang untuk memahami dunia dan hidup ini, sedangkan filsafat pendidikan adalah ilmu yang pada hakikatnya jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam lapangan pendidikan.
Pada mulanya filsafat adalah induk dari segala cabang ilmu pengetahuan yang ada, namun karena banyak permasalahan yang tidak dapat dijawab lagi oleh sendiri, maka lahirlah cabang ilmu yang lain untuk menjawab segala macam permasalahan yang timbul. Diantara permasalahan-permasalahan yang timbul dan tidak dapat dijawab lagi oleh filsafat sendiri, yaitu permasalahan yang timbul/terjadi di lingkungan pendidikan. Oleh karena itu lahirlah filsafat pendidikan yang merupakan cabang filsafat sebagai pembantu dalam memecahkan masalah-masalah yang tidak dapat terpecahkan sendiri oleh filsafat, khususnya dalam lapangan pendidikan.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa yang melatarbelakangi munculnya filsafat pendidikan adalah banyaknya perubahan-perubahan dan permasalahan-permasalahan yang timbul di lapangan pendidikan yang tidak mampu dijawab sendiri oleh filsafat. Selain itu, yang melatarbelakangi munculnya filsafat pendidikan adalah banyaknya ide-ide baru dalam dunia pendidikan. Adapun datangnya ide-ide tersebut diantaranya berasal dari tokoh-tokoh filsafat Yunani.
filsafat sebagai hasil pemikiran para ahli filsafat telah melahirkan berbagai macam pandangan/ide yang salah satunya ialah lahirnya pandangan tentang filsafat pendidikan. Begitu pula halnya dengan filsafat pendidikan bahwa dalam sejarahnya telah melahirkan berbagai pandangan atau aliran.
Karena kesimpulan filsafat tidak pernah mandeg, maka setiap keputusan atau kesimpulan yang diperoleh tidak pernah merupakan kesimpulan final. Sebab itu, dunia percaturan filsafat (termasuk filsafat pendidikan) seringkali hanya berkisar pada permasalahan-permasalahan yang sama, baik sebagai suatu bentuk persetujuan ataupun penolakan terhadap kesimpulan yang ada.




B. Aliran-Aliran Pendidikan
1. Aliran Progressivisme
Aliran Progressivisme, progress (maju) adalah sebuah faham filsafat yang lahir dan sangat berpengaruh dalam abad ke-20. Aliran filsafat ini kelahiran Amerika dan pengaruhnya terasa di seluruh dunia yang mendorong usaha pembaharuan di dalam lapangan pendidikan.
Dalam banyak hal aliran progressivisme identik dengan pragmatisme. Apabila orang menyebut pragmatisme, maka berarti progressivisme, begitu pula sebaliknya. Tokoh-tokoh aliran progressivisme/pragmatisme diantaranya William James, John Dewey, Hans Vaillinger, Ferdinand Schiller dan George Santayara.
Pada dasarnya aliran ini memandang bahwa pendidikan adalah sebagai wadah untuk menjadikan anak didik yang memiliki kualitas dan terus maju (progress) sebagai generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru. Melalui pandangannya ”The Liberal Road Culture”, maksudnya ialah pandangan hidup yang mempunyai sifat-sifat fleksibel, curious, toleran dan open-minded, serta menolak segala otoritarisme dan absolutisme seperti yang terdapat dalam agama, politik, etika dan epistemologi. Dan pandangannya tentang menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah dari manusia yang diwarisi sejak lahir (men’s natural powers), sehingga manusia merupakan makhluk biologis yang utuh dan menghormati harkat dan martabat manusia sebagai pelaku/subyek di dalam hidupnya. Dengan pandangan-pandangannya tersebut, aliran progressivisme memiliki kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, yang meliputi : ilmu hayat (manusia untuk mengetahui semua masalah kehidupan), antropologi (manusia mempunyai pengalaman, pencipta budaya, dengan demikian dapat mencari hal baru), psikologi (manusia akan berpikir tentang dirinya sendiri, lingkungan dan pengalaman-pengalamannya, dan dapat menguasai serta mengatur sifat-sifat alam).
Aliran progressivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan pada abad ke-20. Di dalam dunia pendidikan progressivisme banyak meletakkan tekanan dalam masalah kebebasan dan kemerdekaan anak didik baik secara physic maupun dalam tata berpikir. Oleh karena itu aliran progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter, sebab akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira dalam menghadapi pelajaran dan sekaligus akan mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik.
John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi. Artinya pendidikan sebagia proses pertumbuhan dan proses bagi anak didik sehingga dapat mengambil pelajaran dari setiap kejadian dan pengalaman di lingkungan sekitarnya. Maka dari itu dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan, sebab belajar yang baik tidak cukup di sekolah saja.
Jadi sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikannya berintegrasi dengan lingkungan sekitar. Inilah tujuan umum pendidikan menurut John Dewey dalam bukunya “Democracy and Education”. Isi pendidikannya lebih mengutamakan bidang-bidang seperti pengetahuan alam, sejarah, keterampilan, serta hal-hal yang berguna serta langsung dirasakan oleh masyarakat. Metode scientific lebih diutamakan dan dipentingkan, dan bukan metode memorisasi. Praktek kerja di laboratorium, bengkel, kebun (lapangan) merupakan kegiatan yang dianjurkan menurut aliran progressivisme dalam rangka terlaksananya “Lerning By Doing”.
Progressivisme menghendaki jenis kurikulum yang terbuka dan fleksibel, jadi kurikulum tersebut bisa dirubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya. Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi di dalam lingkungan yang komplek, sehingga ia memerlukan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan demi kelestarian hidupnya dan perkembangan pribadinya. Oleh karena itu manusia harus belajar dari pengalaman. Pengalaman-pengalaman itu diperoleh sebagai akibat dari belajar. Anak didik yang belajar di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman dari lingkungan, di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman yang dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan umum.
Aliran ini tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan secara terpisah, melainkan harus terintegrasi dalam unit. Dengan demikian kurikulum eksperimental mengandung ciri integrated curriculum, metode yang diutamakan yaitu metode problem solving.
John Dewey telah mengemukakan dan menerapkan metode problem solving ke dalam proses pendidikan, melakukan perubahan atau inovasi dari bentuk pengajaran tradisional di mana adanya verbalisme pendidikan. Di sini anak didik dituntut untuk dapat memfungsikan akal dan kecerdasannya dengan jalan dihadapkan pada materi-materi pelajaran yang menantang siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. Siswa dituntut dapat berpikir ilmiah seperti menganalisa, melakukan hipotesa dan menyimpulkannya dan penekanannya kepada kemampuan intelektualnya.
W.H. Kilpatrik (yang mengembangkan metode problem solving) mengemukakan tentang kurikulum yang dianggap baik terdiri dari :
·       Kurikulum harus dapat meningkatkan kualitas anak didik sesuai dengan jenjang pendidikan.
·       Kurikulum yang dapat mengubah perilaku anak didik menjadi kreatif, adaptif dan mandiri.
·       Kurikulum yang sanggup membina dan mengembangkan potensi anak didik.
·       Kurikulum bersifat fleksibel dan berisi tentang berbagai macam bidang studi.
Melalui proses pendidikan dengan menggunakan kurikulum yang bersifat integrated curriculum, metode lerning by doing dan metode problem solving diharapkan anak didik menjadi maju (progress), mempunyai kecakapan praktis dan dapat memecahkan masalah sosial sehari-hari dengan baik.
2. Aliran Essensialisme
Essensialisme –essensi (pokok)- merupakan aliran yang memandang terhadap pendidikan harus didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban manusia. Aliran ini berpedoman pada peradaban sejak zaman Renaissance. Pada zaman Renaissance telah berkembang dengan megahnya usaha-usaha untuk menghidupkan kembali ilmu pengetahuan dan kesenian serta kebudayaan purbakala, terutama di zaman Yunani dan Romawi. Dalam zaman Renaissance muncul tahap-tahap pertama dari pemikiran essensialis yang berkembang selanjutnya sepanjang perkembangan zaman Renaissance itu sendiri. Pada zaman modern sekarang ini dikembangkan lagi oleh para pengikut dan simpatisan ajaran aliran filsafat tersebut, sehingga menjadi aliran filsafat yang teguh berdiri sendiri, yang mempunyai ciri-ciri utama yang berbeda dengan aliran progressivisme.
Perbedannya yang utama adalah memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, di mana serba terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Essensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memilki kejelasan dan tahan lama, yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang tertata dan jelas.
Paham filsafat idealisme Plato dan paham filsafat idealisme Aristoteles adalah dua aliran pikiran yang membentuk konsep-konsep berpikir golongan essensialisme. Jadi pandangan filsafat essensialisme meramu dan menampung kedua aliran filsafat itu (tetapi tidak lebur jadi satu dan tidak melepaskan sifat yang utama pada masing-masing), yang kemudian mereka terapkan pula dalam bidang pendidikan.
Essensialisme didasari atas pandangan humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah keduniawian, serba ilmiah dan materialistik. Selain itu juga diwarnai oleh pandangan-pandangan dari paham penganut idealisme yang bersifat spiritual dan realisme yang titik berat tujuannya adalah mengenai alam dan dunia fisik. Adapun beberapa tokoh utama yang berperan dalam penyebaran essensialisme, yaitu :
·       Desiderius Erasmus (akhir abad 15)
·       Johan Amos Comenius (1592-1670)
·       John Locke (1632-1704)
·       Johan Heinrich Pestalozzi (1746-1827)
·       Johan Friedrich Frobel (1782-1852)
·       Johan Friedrich Herbert (1776-1841)
·       William T. Harris (1835-1909)
Pada tahun 1930 telah didirikan suatu organisasi bernama “Essentialists Committee for Advancement of Education”, dalam rangka mempertahankan paham essensialisme, khususnya dari persaingan dengan aliran progressivisme. Dan pada tahun 1950-an, di Amerika didirikan sebuah organisasi yang disebut dengan dewan untuk pendidikan dasar (council for basic education) yang merupakan jawaban terhadap apa yang dirasakan oleh sebagian para ahli pendidikan, dengan adanya kecurangan-kecurangan yang terjadi berangsur-angsur dalam tubuh pendidikan Amerika, disebabkan timbulnya yang disebut “pendidikan progressive”.
Tujuan umum aliran progressivisme adalah membentuk pribadi bahagia dunia dan akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mempu menggerakkan kehendak manusia. Kurikulum yang digunakan di sekolah bagi essensialisme merupakan semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan kegunaan. Maka dalam sejarah perkembangannya, kurikulum essensialisme merupakan bagian pola kurikulum, seperti pola idealisme. Butler mengemukakan bahwa sejumlah anak untuk setiap angkatan baru haruslah dididik untuk mengetahui dan mengagumi kitab suci, sedangkan Demih Kevich menghendaki agar kurikulum berisikan moralitas yang tinggi. Ataupun pola kurikulum realisme, yang mengumpamakan kurikulum sebagai balok-balok yang disusun dengan teratur satu sama lain yaitu disusun dari paling sederhana sampai kepada yang komplek. Susunan ini dapat diutarakan ibarat sebagai susunan dari alam, yang sederhana merupakan fundamen atau dasar dari susunannya yang paling komplek. Jadi bila kurikulum disusun atas dasar pikiran yang demikian akan bersifat harmonis. Dengan demikian, peranan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan bisa berfungsi sesuai dengan prinsip-prinsip dan kenyataan sosial yang ada di masyarakat.
3. Aliran Perennialisme
Perennialisme diambil dari kata perennial, yang artinya kekal atau abadi. Dari makna yang terkandung dalam kata itu, aliran perennialisme mengandung kepercayaan filasafat yang berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang bersifat kekal abadi. Aliran filsafat ini termasuk pendukung yang kuat dari filsafat essensialisme. Pendiri utama dari filsafat ini adalah Aristoteles yang kemudian didukung dan dilanjutkan oleh Thomas Aquinas, sebagai reformer utama pada abad ke-13.
Dengan melihat kehidupan zaman modern telah menimbulkan banyak krisis, di bidang kehidupan umat manusia. Untuk mengatasi krisis ini, perennialisme memberikan jalan keluar berupa “regressive road to culture”. Oleh sebab itu perennialisme memandang penting peranan pendidikan dalam proses mengembalikan keadaan manusia zaman modern ini kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal, untuk supaya sikap yang membanggakan kesuksesan dan memulihkan kepercayaan pada nilai-nilai asasi masa silam.
Asas-asas filsafat perennialisme bersumber pada dua filsafat kebudayaan, yaitu perennialisme theologis, yang ada dalam pengayoman supremasi gereja Katolik, khususnya menurut ajaran dan interpretasi Thomas Aquinas, dan perennialisme sekuler, yakni yang berpegang teguh pada ide dan cita filosofis Plato dan Aristoteles.
Pandangan-pandangan Thomas Aquinas sangat berpengaruh dalam lingkungan gereja Katolik. Demikian pula dalam pandangan-pandangan aksiomatis lain seperti yang diutarakan oleh Plato dan Aristoteles. Selain itu juga semuanya mendasari konsep filsafat pendidikan perennialisme.
Di bidang pendidikan, perennialisme sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokohnya seperti Plato, Aristoteles dan Thomas Aquinas. Dalam hal ini, pokok pikiran Plato tentang ilmu pengetahuan dan nilai-nilai adalah menifestasi daripada hukum yang universal, yang abadi dan sempurna, yakni ideal. Sehingga ketertiban sosial hanya akan mungkin bila ide itu menjadi ukuran, asas normatif dalam tata pemerintahan. Maka tujuan utama pendidikan ialah membina pemimpin yang sadar dan mempraktekkan asas-asas yang normatif itu dalam semua aspek kehidupan.
Menurut Plato, manusia secara kodrati memiliki tiga potensi, yaitu nafsu, kemauan dan pikiran. Pendidikan hendaknya berorientasi pada ketiga potensi tersebut dan kepada masyarakat, agar supaya kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi. Ide-ide Plato itu dikembangkan oleh Aristoteles dengan lebih mendekatkan pada dunia kenyataan. Bagi Aristoteles tujuan pendidikan adalah kebahagiaan.
Untuk mencapai pendidikan itu, maka aspek jasmani, emosi, dan intelek harus dikembangkan secara seimbang.
Seperti halnya prinsip-prinsip Plato dan Aristoteles, tujuan pendidikan yang dikehendaki Thomas Aquinas adalah sebagai usaha untuk mewujudkan kapasitas yang ada dalam individu agar menjadi aktivitas, aktif dan nyata. Dalam hal ini peranan guru adalah mengajar (memberi bantuan pada anak didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri anak didik).
Prinsip-prinsip pendidikan perennialisme tersebut, perkembangannya telah mempengaruhi sistem pendidikan modern, seperti pembagian kurikulum untuk sekolah dasar, menengah, perguruan tinggi dan pendidikan orang dewasa.
4. Aliran Rekonstruksionisme
Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggris “rekonstruct”, yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks pendidikan, aliran ini adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme pada prinsipnya sepaham dengan aliran perennialisme, yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern.
Walaupun demikian, prinsip yang dimiliki aliran rekonstruksionisme tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang perennialisme. Keduanya mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang serasi dalam kehidupan. Aliran perennialisme memilih cara sendiri, yakni dengan kembali ke alam kebudayaan lama atau dikenal dengan “regressive road to culture” yang mereka anggap paling ideal. Sementara itu aliran rekonstruksionisme menempuh dengan jalan berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia.
Untuk mencapai tujuan itu, rekonstruksionisme berusaha mencari kesepakatan semua orang mengenai tujuan utama yang dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan baru pada seluruh lingkungannya. Maka melalui lembaga dan proses pendidikan, rekonsruksionisme ingin merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang sama sekali baru.
Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Karenanya pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.
Kemudian aliran ini memiliki potensi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oelh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Cita-cita demokrasi yang sungguh bukan hanya sekedar teori tetapi harus menjadi kenyataan, sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme dan agama (kepercayaan).
C. Konsep Islam Tentang Pendidikan
Filsafat Pendidikan Islam
Dalam ajaran Islam, pada hakikatnya manusia sebagai khalifah Allah di bumi ini. Manusia mempunyai potensi untuk memahami, menyadari dan kemudian merencanakan pemecahan problem hidup dan kehidupannya, serta bertanggung jawab dalam pemecahan problem tersebut. Dalam kata lain Islam menghendaki agar manusia melaksanakan pendidikan diri sendiri secara bertanggung jawab, agar tetap berada dalam klehidupan yang islami.
Pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai masalah hidup dan kehidupan manusia memang merupakan tantangan bagi manusia untuk menjawabnya. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi dasar pelaksanaan dan praktek pendidikan. Ketepatan akan jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mampu merumuskan tujuan pendidikan secara tepat dan hal ini akan mengarahkan usaha-usaha kependidikan yang tepat pula. Di sinilah letak peranan filsafat pendidikan.
Perkembangan filsafat dalam Islam telah menghasilkan berbagai macam alternatif jawaban terhadap berbagai macam pertanyaan dalam hidup dan kehidupan manusia. Jawaban antara hubungan manusia dengan Tuhan, tentang keyakinan dan kepercayaan hidup telah melahirkan ilmu kalam. Pertanyaan-pertanyaan tentang dekatnya manusia dalam hubungan dengan Tuhan, tentang kembali kepada Tuhan menimbulkan ilmu tasawwuf, ilmu fiqh merupakan kodifikasi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang apa dan bagaimana nilai-nilai dan norma-norma kehidupan dan tingkah laku.
Ilmu-ilmu tersebut berhasil dikembangkan dalam dunia Islam, dengan menggunakan metode yang khas islami, yaitu metode ijtihad. Ijtihad adalah menggunakan segenap akal dan potensi manusiawi lainnya untuk mencari kebenaran dan mengambil kebijaksanaan dengan bimbingan al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad Saw.
Begitu juga dalam memecahkan masalah pendidikan Islam (problema yang dihadapi umat Islam), filsafat Islam dengan menggunakan metode khasnya yaitu ijtihad. Namun para filosof muslim menggunakannya secara bervariasi.
Metode spekulatif dan kontemplatif merupakan metode utama dalam setiap cabang filsafat. Dalam sistem filsafat Islam disebut tafakkur. Baik kontemplatif maupun tafakkur, adalah berpikir secara mendalam dan dalam situasi yang tenang dan sunyi untuk mendapatkan sesuatu yang dipikirkan. Biasanya metode ini berkaitan dengan masalah-masalah yang abstrak, misalnya hakikat hidup menurut Islam, hakikat iman, Islam, sifat Tuhan, takdir, malaikat dan sebagainya.
Pendekatan normatif, norma artinya nilai juga berarti aturan atau hukum-hukum. Norma menunjukkan keteraturan suatu sistem. Nilai juga menunjukkan baik dan buruk. Menurut filsafat Islam, sumber nilai adalah Tuhan dan semua bentuk norma akan mengarahkan manusia kepada Islam. Pendekatan normatif dimaksudkan untuk mencari dan menetapkan aturan-aturan dalam kehidupan nyata dan dalam filsafat Islam dapat disebut sebagai pendekatan syar’iyyah, yaitu mencari ketentuan dan menetapkan ketentuan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh menurut syariat Islam. Obyeknya adalah berkaitan dengan tingkah laku dan amal perbuatan. Metode ijtihad dalam fiqih seperti istihsan, maslahah al-mursalah, al-‘aadah al-muhakkamah, merupakan contoh-contoh metode normatif dalam sistem filsafat Islam.
Analisa konsep yang juga disebut sebagai analisa bahasa. Konsep berarti tangkapan atau pengertian seseorang terhadap suatu obyek. Kata-kata, kalimat dan bahasa pada hakikatnya merupakan kumpulan dari pengertian-pengertian, dari konsep-konsep. Konsep seseorang tentang suatu obyek berbeda antara satu dengan yang lainnya, dan konsep inipun dibatasi oleh waktu dan tempat. Al-Quran dan hadits-hadits Nabi Saw adalah juga menggunakan bahasa manusia, yang juga berarti kumpulan-kumpulan dari konsep-konsep yang dimengerti oleh manusia. Dalam sistem filsafat Islam, menafsirkan dan juga menta’wilkan ayat-ayat al-Quran merupakan praktek konkret dari pendekatan analisa konsep atau analisa bahasa. Ajaran Islam penuh dengan konsep-konsep filosofis tentang hidup dan kehidupan manusia, seperti iman, Islam, ihsan, amal saleh, takwa, bahagia dan sebagainya. Semuanya adalah menjadi problema pendidikan Islam.
Pendekatan historis. History artinya sejarah, yaitu mengambil pelajaran dari peristiwa dan kejadian masa lalu. Peristiwa sejarah berguna untuk memeberikan petunjuk dalam membina masa depan. Dengan demikian peristiwa sejarah banyak manfaatnya untuk pendidikan. Ayat al-Quran banyak menganjurkan untuk mengambil pelajaran dari sejarah. Dalam sistem filsafat Islam penggunaan sunnah Nabi Saw sebagai sumber hukum, penelitian-penelitian akan hadits-hadits, yang menghasilkan pemisahan antara hadits palsu dan hadits shahih, pada hakikatnya merupakan contoh praktis dari penggunaan analisa historis dalam filsafat pendidikan Islam.
Pendekatan ilmiah terhadap masalah aktual, yang pada hakikatnya merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari pola berpikir rasional, empiris dan eksperimental yang telah berkembang pada masa jayanya filsafat dalam Islam.
Demikian beberapa pendekatan filosofis yang mungkin digunakan dalam memecahkan problematika pendidikan di kalangan umat Islam. Adapun pendekatan mana yang efektif dan efisien tentunya tergantung kepada sifat, bentuk dan ciri khusus problema yang dihadapi.
Dengan demikian filsafat pendidikan Islam ialah filsafat pendidikan yang berasal dari prinsip-prinsip dan ruh Islam. Berdasasrkan prinsip-prinsip dan ruh Islam tidak menyebabkan kehilangan unsur-unsur kemajuan dan tidak menghilangkan sifat eksperimental, sesuai dengan kemajuan zaman. Di samping itu, filsafat pendidikan Islam juga merupakan studi tentang penggunaan dan penerapan metode dalam memecahkan problematika pendidikan umat Islam dan memberikan arah serta tujuan yang jelas terhadap pelaksanaan pendidikan umat Islam.
Pandangan Islam Tentang Pendidikan
Agama Islam adalah agama yang universal, yang mengajarkan umat manusia mengenai berbagai aspek kehidupan, baik duniawi maupun ukhrawi. Salah satu di antara ajaran tersebut adalah mewajibkan kepada umat Islam untuk melakukan pendidikan. Karena pendidikan merupakan kebutuhan hidup manusia yang mutlak harus dipenuhi demi untuk mencapai kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat. Dengan pendidikan itu pula manusia akan mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan untuk bekal kehidupannya. Apabila kita memperhatikan ayat yang pertama kali diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhamma Saw, maka nyatalah bahwa Allah telah menekankan perlunya orang belajar baca tulis dan ilmu pengetahuan.
Firman Allah dalam surat al-Alaq ayat 1-5 :
Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.
Di samping menekankan pada umatnya untuk belajar, Islam juga menyuruh umatnya untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Islam mewajibkan umatnya untuk belajar dan mengajar, manusia itu sebagai makhluk yang dapat dididik dan mendidik. Banyak ayat al-Quran dan hadits yang menjelaskan hal tersebut, antara lain di dalam surat al-Taubah ayat 122
Artinya : “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.
Sabda Nabi Muhammad Saw :
كُوْنُوْا رَبَّانِيِّيْنَ حُلَمَاءَ فُقَهَاءَ عُلَمَاءَ وَيُقَالُ الرَّبَّانِيُّ الَّذِيْ يُرَبِّ النَّاسَ مِنْ صِغَارِ الْعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ
Artinya : “jadilah kamu pendidik yang penyantun, ahli fikih dan ahli ilmu, disebut pendidik bila seseorang  telah mendidik manusia dengan ilmunya sedikit-sedikit lama kelamaan banyak” (HR. Bukhari).










BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Filsafat sebagai hasil pemikiran para ahli filsafat telah melahirkan berbagai macam pandangan/ide yang diantaranya ialah lahirnya pandangan tentang filsafat pendidikan. Begitu pula halnya dengan filsafat pendidikan, bahwa dalam sejarahnya telah melahirkan berbagai pandangan atau aliran.
Karena kesimpulan filsafat tidak pernah mandeg, maka setiap keputusan atau kesimpulan yang diperoleh tidak pernah merupakan kesimpulan final. Diantara pandangan pokok tentang pendidikan menurut aliran-aliran pendidikan, yaitu :
Progressivisme, memandang bahwa dengan proses pendidikan yang menggunakan integrated curriculum, metode learning by doing dan problem solving, diharapkan anak didik menjadi maju (progress), mempunyai kecakapan praktis dan dapat memcahkan masalah sosial sehari-hari dengan baik.
Essensialisme, memandang bahwa pendidikan adalah proses membentuk pribadi bahagia dunia dan akhirat. Maka dalam sejarahnya, kurikulum yang digunakan oleh essensialisme adalah pola kurikulum idealisme dan realisme. Dengan pola kurikulum seperti ini, diharapkan peranan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan bisa berfungsi sesuai dengan prinsip-prinsip dan kenyataan sosial yang ada di masyarakat.
Perennialisme, memandang bahwa tujuan pendidikan adalah sebagai usaha mewujudkan kapasitas yang ada dalam individu agar menjadi aktualitas, aktif dan nyata. Prinsip-prinsip pendidikan perennialisme telah mempengaruhi sistem pendidikan modern, seperti pembagian kurikulum untuk sekolah dasar, menengah dan perguruan tinggi.
Rekonstruksionisme, memandang bahwa tujuan pendidikan adalah untuk merombak tata susunan kebudayaan lama dan membangun tata hidup kebudayaan yang baru, melalui pembinaan daya intelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia dengan pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar demi generasi sekarang dan yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.
Filsafat Pendidikan Islam merupakan jawaban yang berasal dari prinsip-prinsip dan ruh Islam atas pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai masalah pendidikan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi dasar pelaksanaan dan praktek pendidikan. Ketepatan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mampu merumuskan tujuan pendidikan secara tepat dan akan mengarahkan usaha kependidikan yang tepat pula.
Pendidikan menurut ajaran Islam merupakan kewajiban bagi umat Islam demi mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan akhirat, dan akan mendapatkan ilmu pengetahuan untuk bekal kehidupannya.  









    
DAFTAR PUSTAKA
Hamdani Ali, MA. Filsafat Pendidikan, Kota Kembang, Yogyakarta: 1986.
Jalaluddin dan Abdullah. Filsafat Pendidikan, Gaya Media Pratama, Jakarta: 1997.
Omar Mohammad al-Toumy. Falsafah Pendidikan Islam, alih bahasa DR. Hasan Langgulung, Bulan Bintang, Jakarta: 1979.
Zuhairini, Dra. Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta: 1995.</span>.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar